Peran pemerintah daerah dan komunitas dalam pelestarian bahasa daerah
Revitalisasi Bahasa dan Sastra Daerah
Revitalisasi bahasa dan sastra daerah merupakan suatu program yang harus
terealisasikan upaya untuk melindungi bahasa dan sastra daerah. Menurut Hinton
revitalisasi bahasa adalah suatu bentuk cara untuk mengembalikan bahasa dan
sastra yang terancam hilang jejaknya pada penggunaan bahasa yang lebih baik
setelah mengalami penurunan minat pengaplikasian (Hinton 2011: 291—293).
Bahasa
dan sastra daerah merupakan salah satu aset budaya yang sangat bernilai bagi bangsa Indonesia. Akan tetapi, dalam beberapa tahun terakhir,
bahasa dan sastra daerah terus terpinggirkan serta terabaikan oleh warga
setempat, lebih-lebih di kalangan generasi milenial. Mengutip dari pandangan Moseley
(2010) dalam buku Atlas of the World’s Languages in Danger,
ada 146 bahasa yang kini mengalami banyak perubahan karena faktor penyerapan
dari bahasa lain sehingga keaslian bahasa daerah tersebut terancam punah dan
ada pula 12 bahasa yang sudah punah karena tidak terpelihara dengan baik.
Bahasa-bahasa tersebut terletak di bagian timur Indonesia. Bahasa-bahasa yang telah
punah antara lain adalah Liliali, Kayeli, Moksela, Nila, Hukumina, Naka’ela, Piru,
Palumata, dan Te’un di Maluku, Mapia dan Tandia di Papua, serta Tobada’ di
Sulawesi. Bahasa dan sastra daerah adalah kekayaan terkhir yang dimiliki
oleh bangsa. Maka dari itu, perlu adanya revitalisasi bahasa dan sastra daerah
supaya tidak terlupakan serta senantiasa terpelihara keberadaannya.
Di bawah ini adalah beberapa metode yang dapat
dilakukan dalam revitalisasi bahasa dan sastra daerah :
1. 1. Pembelajaran
Bahasa dan Sastra daerah di Sekolah
Salah satu
metode yang efektif guna memperkenalkan bahasa dan sastra daerah kepada generasi muda yaitu dengan menambahkan pembelajaran
bahasa dan sastra daerah ke dalam kurikulum sekolah. Dengan demikian, siswa bisa belajar serta memahami bahasa dan sastra daerahnya mulai dari usia dini.
2. 2. Pembuatan
karya tulis serta Media
Pembelajaran
Pembuatan karya tulis dan media belajar yang menarik serta mudah dimengerti dapat menjadi suatu fasilitas yang efisien guna memperkenalkan
bahasa dan sastra daerah kepada masyarakat. Karya tulis serta media belajar ini bisa berbentuk storybook, pelajaran, film pendek, ataupun video pembelajaran.
3. 3. Mengadakan
Festival Bahasa dan Sastra Daerah
Festival bahasa
dan sastra daerah bisa menjadi suatu ajang untuk memperkenalkan bahasa dan sastra daerah kepada warga secara luas. Festival ini bisa diisi dengan bermacam
kegiatan seperti pameran karya tulis ilmiah, seminar,
dialog, lomba menulis, lomba baca puisi, serta pertunjukan seni budaya.
4. 4. Menjunjung dalam menggunakan Bahasa dan Sastra Daerah
Menjunjung dalam menggunakan Bahasa dan Sastra Daerah dalam kehidupan kesehariannya. Menjadi suatu permulaan guna
melestarikan bahasa dan sastra daerah. Penduduk setempat bisa memulainya dengan
menggunakan bahasa daerahnya ketika berbicara dengan keluarga ataupun
sahabatnya.
5. 5. Kerja
sama dengan Komunitas Bahasa dan Sastra Daerah
Membentuk/bergabung dengan komunitas bahasa dan sastra daerah mampu menjadi suatu metode yang efisien agar dapat mempelajari,
memperkenalkan, serta melestarikan bahasa dan sastra daerah. Dalam komunitas ini, warga bisa berdiskusi serta berbagi
pengetahuan tentang bahasa dan sastra daerah.
Revitalisasi bahasa dan sastra daerah tidak hanya melindungi keberadaannya, tapi juga
menjadi upaya guna memperkaya serta memperluas pengetahuan warga mengenai keberagaman budaya Indonesia. Mengenai hal tersebut Susiati (2019) berpendapat bahwa perlu adanya
perlindungan bahasa dan sastra daerah, karena bahasa dan sastra daerah
merupakan suatu keunikan serta identitas yang dimiliki suatu daerah. Dalam
konteks ini Lewis et al.
(2015) juga memberikan pandangannya mengenai perlindungan bahasa daerah.
Suatu bahasa akan terancam punah apabila masyarakatnya sedikit untuk mengakui
bahasanya dan, oleh sebab itu, bahasa tidak pernah digunakan maupun diturunkan/diajarkan
kepada anak-anak mereka. Selain itu, suatu bahasa akan punah jika bahasa tersebut
minim penggunaanya dalam aktivitas sehari-hari, sehingga akan kehilang fungsi
sosial atau komunikatifnya. Oleh sebab itu, peran serta elemen warga
sangatlah diperlukan dalam upaya melestarikan bahasa dan sastra daerah.
Pemerintah daerah dan komunitas sama-sama mempunyai peran penting dalam pelestarian bahasa daerah. Pemerintah daerah mempunyai tanggung jawab untuk mempromosikan dan mempersembahkan bahasa daerah sebagai
komponen dari kekayaan tradisi yang ada di Indonesia. Walaupun, komunitas mempunyai peran sebagai agen pemersatu masyarakat
dalam melestarikan bahasa daerah.
Peran pemerintah daerah dalam pelestarian
bahasa daerah
Pemerintah daerah mempunyai tanggung jawab dalam melestarikan bahasa suatu
daerah sebagai komponen dari kekayaan tradisi Indonesia. SIL (Simons dan
Fennig, 2017) menyatakan bahwa indonesia memiliki 719 bahasa daerah dan yang
masih aktif dituturkan sebanyak 707. Sementara itu, Unesco baru menyatakan
ada 143 bahasa daerah di Indonesia yang berdasarkan status daya hidup bahasa.
Maka dari itu, pemerintah daerah memiliki peran penting untuk melestarikan
bahasanya. Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah daerah
sebagai berikut :
1. 1. Pembuatan
aturan dan regulasi
Pemerintah daerah mampu menciptakan aturan atau tata tertib yang mewajibkan
penerapan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari atau dalam beragam
aktivitas di daerah tersebut. Peraturan ini diaplikasikan pada pelbagai sektor,
seperti pendidikan, pemerintahan, dan aktivitas masyarakat.
2. 2. Pendidikan bahasa
daerah
Pemerintah daerah mampu mengoptimalisasikan program pengajaran bahasa
daerah di berbagai sekolah untuk mempersembahkan dan memperluas pengaplikasian
bahasa daerah terhadap generasi muda. Selain dari pada itu, pemerintah daerah
juga bisa memberikan pelatihan atau kursus bahasa daerah bagi seluruh
masyarakat
3. 3. Promosi bahasa
daerah
Pemerintah daerah mampu mengoptimalkan program promosi bahasa daerah
melalui media-media, seperti TV, radio,
dan media lainnya. Dalam promosi ini, pemerintah daerah mampu menunjukkan
bermacam-macam keunikan dan estetika bahasa daerah serta memperkenalkannya
terhadap masyarakat luas.
4. 4. Pembuatan Kamus dan Ensiklopedia Bahasa daerah
Pemerintah daerah mampu menciptakan kamus dan ensiklopedia bahasa daerah
untuk mempermudah masyarakat dalam mempelajari bahasa daerah. Kamus dan
ensiklopedia ini juga bisa dipakai sebagai acuan bagi masyarakat dalam
memperluas pengetahuan mengenai bahasa daerah.
5. 5. Pemberian Dana dan Insentif
Pemerintah daerah mampu memberikan dana dan insentif bagi masyarakat atau kelompok sosial yang aktif dalam melestarikan bahasa daerah. Dana dan insentif ini juga bisa dipakai untuk membiayai bermacam-macam aktivitas dan program yang berkaitan
dengan pelestarian bahasa daerah.
Sebagai lembaga yang bertanggung jawab atas keberlangsungan serta kemajuan
daerahnya, pemerintah daerah mempunyai peran penting dalam meningkatkan serta
melestarikan bahasa daerah. Maka dari itu Revitalisasi bahasa diartikan sebagai bentuk usaha
upaya meningkatkan atau mengfungsikan pengguna bahasa untuk bahasa yang
terancam punah (King, 2001). Berikut merupakan suatu metode yang bisa
dilakukan oleh pemerintah daerah untuk meningkatkan bahasa daerahnya :
1. 1. Melembagakan
pemakaian bahasa daerah dalam aktivitas formal pemerintah
Pemerintah daerah bisa membuat kebijakan yang mengharuskan penggunaan
bahasa daerah dalam aktivitas formal pemerintah seperti rapat, pembuatan
kebijakan, serta banyak dokumen formal lainnya. Prihal ini bisa ditingkatkan
lagi pemakaian bahasa daerah di area pemerintahan, sehingga bahasa daerah
menjadi semakin dipandang serta dihargai.
2. 2. Menyediakan
kursus serta pelatihan bahasa daerah
Pemerintah daerah mampu memfasilitasi kursus serta pelatihan bahasa daerah
untuk masyarakatnya. Hal tersebut bisa membantu warga untuk mempelajari serta
memahami bahasa daerah dengan baik, sehingga bahasa daerah di wilayah tersebut
dapat semakin berkembang serta dilestarikan.
3. 3. Meningkatkan
kurikulum pendidikan yang memasukkan bahasa daerah di sekolah-sekolah
Pemerintah daerah mampu meningkatkan kurikulum pendidikan yang memasukkan
pengajaran bahasa daerah di sekolah-sekolah. Hal tersebut akan memudahkan
generasi muda untuk mempelajari bahasa daerah mulai sejak dini dan menjaga
kelestariannya.
4. 4. Mengadakan
aktivitas yang menunjang pelestarian bahasa daerah
Pemerintah daerah mampu mengadakan beberapa aktivitas seperti seminar,
lokakarya, serta festival yang berkaitan dengan bahasa daerah.
Kegiatan-kegiatan tersebut bisa dijadikan fasilitas guna memperkenalkan bahasa
daerah kepada masyarakat luas dan menjadi upaya supaya mereka bisa meningkatkan
kesadaran masyarakat mengenai betapa pentingnya pelestarian bahasa daerah.
5. 5. Membuat kamus
serta buku-buku tentang bahasa daerah
Pemerintah daerah bisa memfasilitasi pembuatan kamus serta buku-buku
tentang bahasa daerah. Hal tersebut dapat membantu masyarakat untuk menekuni
bahasa daerahnya dengan mudah serta menjadikan bahasa daerah semakin
terpangpang dan semakin dihargai.
6. 6. Menyediakan
dana untuk pengembangan bahasa daerah
Pemerintah daerah mampu menyediakan dana guna pengembangan bahasa daerah,
seperti halnya untuk penelitian serta pengembangan bahasa daerah, penerjemahan
dokumen formal ke dalam bahasa daerah, serta menyediakan perlengkapan dan bahan
untuk mengokohkan upaya pelestarian bahasa daerah.
7. 7. Mengikutsertakan
masyarakat dalam upaya pelestarian bahasa daerah
Pemerintah daerah dapat mengikut sertakan masyarakat dalam upaya
pelestarian bahasa daerah, seperti halnya mengadakan diskusi dan konsultasi.
Peran komunitas daerah dalam pelestarian bahasa
daerah
Komunitas daerah menjadi aktor utama dalam pelestarian bahasa daerah. Bahasa daerah adalah bagian penting dari warisan budaya yang harus dilindungi dan dipertahankan supaya terus terealisasikan. Berikut ini adalah beberapa peran penting yang dapat dipraktikkan oleh komunitas daerah dalam pelestarian bahasa daerah:
1. Melestarikan
bahasa daerah dengan penggunaan sehari-hari
Komunitas daerah bisa memastikan bahwa bahasa daerah tetap terjaga dan tidak tercampur aduk dengan adanya bahasa baru yang datang dari bahasa daerah lain serta mampu memastikan bahasa tersebut hidup dan digunakan dalam percakapan sehari-hari. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengajarkan bahasa murni suatu daerah kepada anak-anak dan mempromosikan penggunaan bahasa daerah ditempat umum seperti di rumah, sekolah, dan tempat kerja.
2. Mengadakan suatu
kegiatan yang mempromosikan bahasa daerah
Komunitas daerah mampu mengadakan acara yang mempromosikan bahasa daerah, seperti baca puisi, pertunjukan teater, atau festival bahasa daerah. Hal ini bisa membantu meningkatkan kesadaran serta minat masyarakat terhadap bahasa daerah.
3. Mengumpulkan serta
menyebarluaskan informasi mengenai bahasa daerah
Komunitas daerah mampu mengumpulkan serta menyebar luaskankan informasi mengenai bahasa daerah, melalui kamus bahasa daerah, buku-buku tentang bahasa daerah, serta catatan sejarah bahasa daerah. Hal tersebut bisa membantu mempertahankan dan mengembangkan pengetahuan tentang bahasa daerah serta mencegah bahasa daerah dari kepunahan.
4. Melakukan observasi
mengenai bahasa daerah
Komunitas daerah juga harus melakukan observasi tentang bahasa daerah, seperti asal-usul bahasa daerah, mempelajari tata bahasa daerah, serta menyimpan catatan tentang bahasa daerah. Hal ini bisa membantu mempertahankan pengetahuan serta memperkaya warisan budaya daerah.
Dengan mengamalkan poin-poin tersebut, komunitas daerah mampu menjadi aktor
penting dalam pelestarian bahasa daerah. Bahasa daerah adalah hal yang penting
dari identitas budaya suatu daerah, dan dengan melindungi bahasa daerah,
komunitas daerah mampu memastikan bahwa warisan budaya mereka terus hidup dan
terus berkembang.
Daftar Pustaka
Susiati, S.,
Iye, R., & Suherman, L. O. A. (2019). Hot Potatoes Multimedia Applications in Evaluation of Indonesian
Learning In SMP Students in Buru District. ELS Journal on Interdisciplinary Studies in Humanities, 2 (4), 556-570.
Moseley, Christopher (ed.). 2010.
Atlas of the World’s Languages in Danger, 3rd edn. Paris, UNESCO Publishing.
Diakses dari versi daring: http://www.unesco.org/culture/en/endangeredlanguages/atlas
pada 1 Juli 2015.
Lewis, M. Paul, Gary F. Simons, dan
Charles D. Fennig (eds.). 2015. Ethnologue: Language of the World, Eighteenth
edition. Dallas, Texas: SIL International. Diakses dari versi daring:
http://www.ethnologue.com pada 19 Agustus 2015.
Hinton, Leanne. 2011. Revitalization
of Endangered Language. Dalam Peter K. Austin dan Julia Sallabank, eds, The
Cambridge Handbook of Endangered Languages. Cambridge: Cambridge University
Press.
Simons, Gary F. dan Charles D.
Fennig (editor). 2017. Ethnologue: Languages of the World, Edisi
Ke-20. Dallas, Texas: SIL Internasional. Versi
daring: http://www.ethnologue.com .
King, Kendall A. 2001. Language
Revitalization Processes and Prospects: Quichua in the Ecuadorian Andes.
Paris: Multilingual Matters LTD.
Komentar
Posting Komentar